VIVAnews – Penggunaan frekuensi
di Indonesia masih belum tertata dengan baik. Hal itu bisa dilihat dari
bocornya frekuensi radio yang masuk ke jalur komunikasi penerbangan
dengan pihak Air Traffic Control (ATC) bandara. Alhasil, banyak pilot
yang terganggu ketika menerbangkan si burung besi.

Seperti
yang diungkapkan Kapten Moses Morin usai diskusi “Mayday Sistem Navigasi
Pesawat Udara Kita” di Cava Cafe, Cikini, Jakarta, Rabu 30 Mei 2012.
Dia mengaku, musik dangdut yang disiarkan stasiun radio sering bocor ke
jalur komunikasi pilot.

“Frekuensi radio itu mengganggu,
komunikasi kami dengan ATC bandara jadi terhalang,” kata Morin, yang
merupakan mantan Pilot Garuda Indonesia.

Menurut pilot yang kini aktif
di penerbangan perintis wilayah Papua, kasus-kasus semacam itu umum
terjadi di sejumlah bandara di Indonesia. Sebab, dia melanjutkan,
frekuensi yang digunakan dalam penerbangan bersebelahan dengan frekuensi
radio.

Petugas teknologi informasi Bandara Soekarno-Hatta,
Urip Hermanus, menambahkan, sejumlah siaran radio lokal di Jakarta
bahkan bocor sampai ke area Cirebon, dan mengganggu penerbangan. Hal itu
karena penambahan daya yang dilakukan sejumlah radio, tanpa
memperhitungkan pengaruhnya.

Selain itu,
eksperimen-eksperimen para penggiat radio amatir kerap kali bocor masuk
ke ruang kokpit pesawat. Para penggiat radio amatir itu tidak ikut
mempertimbangkan efek eksperimennya terhadap dunia penerbangan.

Urip menerangkan, sempat suatu kali quadran tertentu di radar bandara
mengalami kendala, dan seluruh pesawat yang melintas di quadran
tersebut sama sekali tidak terdeteksi. “Waktu diperiksa, ternyata karena
ada kamera CCTV nirkabel milik ketua RW,” ujar dia.

By 9M2PJU

Amateur radio operator from Malaysia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *